Kamis lalu, adalah hari yang menyedihkan sekaligus membanggakan bagi para Gooners. Menyedihkan karena we were totally out of UCL. Membanggakan karena Arsenal telah menunjukkan kepada dunia how shit Bayern is. Di leg kedua, Arsenal menang 2-0 di Allianz Arena. Arsenal gak bisa lolos karena jumlah gol Bayern di leg 1 (3-1) lebih banyak. Andaikan gol ketiga muncul. They must be so screwed up.
Dari awal gue excited banget nonton match ini. Beberapa jam sebelumnya, gue dan banyak gooners lainnya pesimis kita bakal kalah. Secara statistik dan kenyataan, Arsenal jauh dari Bayern. Di musim ini, Bayern disebut sebagai tim terbaik di Eropa karena konsistensi mereka baik di Bundesliga maupun UCL. Bagaimana dengan Arsenal? No comment. Shit happens berawal saat sebuah tim yang katanya berada jauh di bawah kasta Arsenal fucked us. Yes, they are Bradford. Berlanjut ke kompetisi FA Cup yang tadinya merupakan satu-satunya harapan Arsenal to finish their hunger. Arsenal out lagi dikalahkan oleh tim yang sudah degradasi dari EPL, Blackburn. Dan berikutnya, Arsenal out gara-gara Bayern. Lebih memalukan lagi karena beberapa hari sebelumnya kita dikalahkan sama Bale FC. Inconsistency membuat Arsenal dipermalukan oleh The B-Team.
Para gooners di twitter sudah frustasi dengan defense Arsenal yang bolongnya makin gede tiap minggu. Gue sendiri frustasi karena kapten Ver tidak bisa memimpin The Boys di lapangan dengan baik. Performanya memburuk dan jiwa kepemimpinannya seperti berkurang atau sudah tidak kelihatan lagi. Begitu juga dengan Sagna. Gossipnya mereka berdua akan masuk pasar alias dijual.
Balik ke Bayern vs Arsenal. Gue kaget pas tahu Giroud membawa Arsenal memimpin 1-0 di menit ke 3. Our 'flop' just scored a goal to the best goalkeeper in the world. You must see see your face, Neuer... Haha. Waktu terus berjalan sampai menit ke 90. Koscielny menambah harapan menjadi 2-0. Saat itu, terjadi hal yang gue gak ngerti. Setelah bola masuk ke gawang, Neuer memeluk bola tsb dan terjadi keributan. Mungkin itu rahasianya jadi goalkeeper terbaik, jadikan bola sebagai pacar. Ikuti kemana dia pergi, tangkap dengan cepat saat dia mendekat. Peluk dia saat dia sudah menyentuh hati kita. Uhh freak Neuer. Yang terjadi selanjutnya adalah tangisan. Para gooners menangis dengan bangga setelah timnya mengalahkan Bayern di Munich. Menepis pendapat orang lain atas keyakinan mereka bahwa Bayern will shit us. Alhamdulillah. The Gunners are The Fighters who always surprise us with their shot and will give back the shot to the doubters. The Fighters who lost with 'class'. The Fighters.
Di match ini, The Professor menunjukkan kejeniusannya. Mengistirahatkan Szceszny dan Kapten Vermaelen serta memasukkan Fabianski yang baru muncul setelah cedera panjangnya. Fabianski tampil cemerlang. Cleansheet di Allianz Arena
itu sulit. But he just did it. Pelapis Szceszny menghasilkan cleansheet! Di bagian defense, gooners dibuat melongo. Sangat solid. Jenks dan Kos tampil sangat apik. Bayern got their shit. Goal attempts mereka lebih banyak, menunjukkan betawa efisien Arsenal. Possesion juga lebih dikuasai Bayern. Menunjukkan bahwa Possesion tidak terlalu berpengaruh terhadap kemenangan. Arsenal kamis lalu adalah Arsenal yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Berjuang sampai ke detik terakhir. Gak peduli dengan wasit yang bego. Arsenal kamis lalu percaya bahwa di sudut-sudut terkecil, masih ada harapan tersimpan.
Sekarang, yang tersisa adalah 4th Place yang bagi Wenger adalah prioritas utama secara dengan gitu bisa masuk UCL. Dulu gue bingung sama Wenger saat dia bilang 4 besar EPL adalah throphy. Tapi sekarang gue juga dukung dia. Gue mau lihat Arsenal di UCL tampil dengan matang tahun depan. Melenggang menuju final. Mimpi yang suatu hari akan menjadi kenyataan. Dan gue mau Wenger yang mewujudkan mimpi gue.
Trivia:
- Jenks adalah gooner yg jadi gunner. So proud of him!
- Sebelum dikalahkan Arsenal, Bayern unbeaten 24 games.
- Gol Giroud adalah tercepat kedua dalam melawan Bayern di Allianz setelah Ljunberg (legend Arsenal juga nih) saat dia berseragam Ajax.
No comments:
Post a Comment